Strategi Bertahan Media Cetak di Era Digital

     

            Ilustrasi media cetak Sumber ilustrasi: beritasatu.com

PopularNews (Medan, 18/04/22) - Media cetak perlu melakukan konvergensi media agar tidak mati di era digital ini. Jika tidak sangat disayangkan, karena salah satu media arus utama ini akan tenggelam dihantam laju perkembangan zaman. Hal ini disampaikan oleh Jurnalis Rekatamedia Taufik Wal Hidayat saat dijumpai di ruang kerjanya. 

"Digitalisasi dengan cara mengikuti arus digitalisasi itu sendiri. Dengan mengandeng media digital, maka para pembaca setia akan mendapatkan opsi untuk menggunakan media cetak atau media online atau digitalisasi," kata Taufik. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Teuku Ryan Ananda, Mahasiswa Semester VI Ilmu Komunikasi UMA yang mengatakan, media konvensional seperti tv dan radio juga harus memiliki inovasi agar tidak redup, dan ditinggalkan oleh generasi milenial. 

Pun pada sisi lain, akan menambah pendapatan media tersebut dari segi traffic dan juga iklan. Apalagi di era sekarang ini, biaya menerbitkan media cetak lebih mahal ketimbang income yang diperolehnya, sehingga media tetap memiliki alternatif untuk bisa bertahan hidup. "Di sisi lain, portal tersebut akan tetap mendapatkan traffic/benefit seperti sponsorship atau iklan yang akan menghidupi operasional kantor dan para jurnalis didalamnya," terang Taufik yang juga redaktur di medianya. 

Taufik percaya bahwa media cetak tidak akan hilang dari peredarannya. Meski ia mengakui, media cetak mengalami penurunan drastis dari segi oplah dan pembaca. Sebagaimana data Nielsen (2020) yang menyebutkan, pembaca media cetak di Indonesia hanya 4,5 juta orang atau 4% menurut versi Kominfo (2020). "Pada akhirnya, media cetak tidak akan hilang dari peredaran, melainkan menjadi media alternatif atau opsi untuk pembaca setia," ujarnya. Terkhusus bagi para pembaca setia dari kalangan Baby Boomers, pungkasnya. 

 

Previous
Next Post »